KEARIFAN LOKAL
Kearifan lokal merupakan bagian dari suatu masyarakat yang tidak dapat di pisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri dan biasanya diwariskan secara turun - temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Nilai kearifan lokal berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya karena saya bertempat tinggal di sidoarjo maka saya akan membahas kearifan lokal yang ada di sidoarjo, Pertama tradisi yang ada di sidoarjo disetiap tahunnya:
1) Nyadran adalah tradisi yang dilakukan saat bulan purnama pada setiap bulan ruwah bentuk kegiatan nyadran berupa pesta peragaan cara mengambil kupang dimulai dari balung dowo kecamatan candi. Perjalan ini melewati sungai desa balung dowo lurak sampai di muara kali pecabean perahu yang ditumpangi anak balita membuang seekor ayam.Ritual ini dilakukan berdasarkan kepercayaan bahwa zaman dahulu ada orang yang mengikuti Nyadran sambil membawa anak kecil dan anak kecil tersebut kesurupan.Sehingga untuk menghindari hal teresebut,maka masyarakat Balungdowo percaya bahwa dengan membuang seekor ayam yang masih hidup akan menghindarkan anak tersebut dari kesurupan.Sesampainya Ds Sawohan,peserta Nyadran akan menuju makm Dewi Sekardadu untuk mengadakan makan bersama .Sambil menunggu fajar tiba,peserta Nyadran akan berziarah,bersedekah maupun berdoa di makam tersebut agar berkah terus mengalir.Menurut cerita rakyat Balongdowo,Dewi Sekardadu adalah putri dari Raja Blambangan yang bernama Minak Sembuyuyang pada waktu meninggalnya dikelilingi ikan dan kepiting.Sehingga orang-orang sering menyebut dengan Desa Ketingan. Perahu-perahu yang beriringan akan menuju Selat Madura.
2) Lelang Bandeng, pada saat Maulid Nabi Muhammad SAW biasanya selalu diadakan lelang bandeng di alun-alun kota Sidoarjo .Lelang tersebut selain untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad juga untuk meningkatkan kesejahteraan petani tambak.Uang yang dihasilkan dari acara ini biasanya digunakan untuk amal. Kearifan lokal yang kedua adalah berupa kesenian:
1.Wayang kulit,jenis wayang kulit yang ada di Sidoarjo sebagian besar adalah wayang kulit Jawa Timuran dan sebagian kecil gaya Kulonan.Hampir di setiap kecamatan memiliki budaya wayang kulit ini dari segi musik,instrumennya menggunakan gamelan slendro,mirip yang digunakan dalam ludruk. Berbeda dengan gaya kulonan yang menggunakan gamelan lendro dan sekaligus pelog. Namun kemudian gaya wetanan ini juga menggunakan pelog,terutama untuk mengiringi adegan-adegan tertentu Pagelaran wayang kulitpun dilengkapi dengan campursari bahkan juga musik dangdut.
2. Reog Cemandi,Reog Cemandi berbeda dengan reog Ponorogo.Yang membedakan adalah tidak adanya warok,dan topengnya tidak dihiasi dengan bulu merak seperti ciri khanya Reog Ponorogo.Jumlah pemain reog Cemandi sekitar 13 orang.2 penari Barongan Lanang dan Barongan Wadon mengiringi penabuh gendang yang ada di tengahnya.6 penabuh gendang itu membentuk fomasi melingkar sambil mengikuti irama.Duluya Reog Cemandi adalah pertunjukkan yang dipakai masyarakat desa Cemandi Sedati Sidoarjo untuk mengusir penjajah Belanda.Selain itu Reog ini juga sebagai anjuran masyarakat sekitar untuk mengingat Tuhan Yang Maha Esa.
3. Jaran kempang,Kelompok seni tradisional yang hampir punah di Sidoarjo.Kelompok yang sekarang ada di Sidoarjo bisa dikatakan bukan asli domisili di Sidoarjo,melainkan berasal dari luar kota,seperti Tulungagung,yang sengaja ngamen di Sidoarjo.
4.Tari Ujung,di daerah lain ini disebut juga dengan Tari Tiban.Pertunjukkan ini berupa tari untuk meminta hujan.Namun di Sidoajo,yang memiliki latar belakang sejarah sebagai peninggalan kerajaan Majapahit,seni njungini dimaksudkan sebagai kanuragan.Kelompok seni ujung terdapat di Kecamatan Tarik Wayang Potehi,yang merupakan kesenian khas Cina yang melekat pada klenteng atau rumah ibadah Tionghoa.Di Sidoarjo ada Klenteng Tjong Hok Kiong di jalang Hang Tuah,di kawasan pasar Ikan Sidoarjo.Wayang Potehi hanya digelar saat perayaan hari jadi Macko Thian Siang Seng Bo.